Welcome to www.definitif.id | Pasti, Jelas dan Terpercaya | Copyright 2022

Rocky Gerung dan Memaknai Sikap Kritis

Oleh: Funco Tanipu (Mengajar Teori Kritik di Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo)

Dr. Funco Tanipu., ST., M.A. (Ist)

Bagi kalangan awam yang jauh dari tradisi itu, pasti akan terpukau dengan lontaran kata dan ujaran Roger. Semacam ada oase pemikiran baru. Padahal, apa yang Roger sampaikan adalah kepingan-kepingan pembacaan dan respon soal fenomena sosial. Roger, sebagaimana jika kita melihat karya akademik yang ia produksi, belum pada tahap menyusun konstruksi gagasan ; konseptual, sistematis, terukur, dan bisa direalisasikan. Dia jika kita simak dalam penampilan di kanal media sosial lebih pada merespon fenomena-fenomena sosial-politik yang sedang terjadi, khususnya “blunder-blunder” yang dilakukan dari pemerintah. Roger sederhananya hanya melakukan “snapshot-capture-posting”, tidak lebih dari itu. Pada level itu, publik terkesan gagap dalam merespon fenomena Roger.

LITERASI DAN RATING

Fenomena Roger pada intinya adalah kemunduran literasi. Kemunduran ini beriringan dengan semakin banyak aplikasi dan variasinya yang berkembang di media sosial. Jika kita lihat data dari Indonesia Digital Landscape tahun 2018, terlihat sangat terang dari 265.4 juta penduduk Indonesia, terdapat sekitar 132 juta jiwa yang menjadi “internet users”, diantara itu ada sekitar 130 juta jiwa yang aktif di media sosial. Dari jumlah itu, rata-rata yang menggunakan internet menghabiskan lebih dari 8 jam sehari. Dari 2/3 waktu itu, lebih banyak digunakan untuk menonton Youtube, menyimak postingan di Facebook, mereview story Instagram dan WhatsApp, sehingga konversi literasi dari analog ke digital bukan membawa tradisi literasi menjadi semakin baik namun semakin rendah.

Bagikan: