Bagi saya pribadi, perayaan kegirangan atas “Rockynisasi” ini mesti direnungkan kembali. Roger sebagai “aktifitas politik” tidak boleh dibiarkan sendirian dan berdiri tunggal. Mesti diproduksi “Roger-roger” yang lain dan berjumlah banyak, dalam rangka menjamin keseimbangan politik di negeri ini. Bukan saja pada periode saat ini, tapi pada setiap periode dan pada setiap skala dan termasuk level.
Yang keliru misalnya jika Roger hanya diversuskan Presiden Jokowi saja, seolah-ola misalnya alamat kesalahan di negeri ini cukup ditujukan pada Presiden Jokowi, pada elit yang lain tidak, atau pada kepala daerah yang memiliki otoritas kekuasaan yang cukup besar malah tidak, walaupun misalnya mengelola negara dengan pola yang timpang, tidak adil, dan jauh dari harapan publik.
Perlu sikap fair juga dalam melihat segala aspek kritik, tanpa kemudian menghilangkan makna dan tujuannya. Agar sikap kritik yang dikembangkan itu bukan dalam maksud “asal bukan”.
Saya berbeda dengan alm. Cornelis Lay yang pada pidato pengukuhan dirinya menjadi Guru Besar Ilmu Politik UGM pada 2019 silam, menyatakan bahwa ada jalan ketiga dimana peran intelektual adalah bersahabat dengan kekuasaan dengan syarat menjaga kewarasan dan akal sehat. Pada konteks itu saya agak berbeda, dalam kondisi yang tidak stabil, perlu juga ada barisan intelektual yang terus berada diluar pemerintahan untuk mengawasi dan melakukan kritik secara terus menerus (day to day critic). Hal tersebut seperti apa yang Roger sedang lakukan saat ini.







