Welcome to www.definitif.id | Pasti, Jelas dan Terpercaya | Copyright 2022

Rocky Gerung dan Memaknai Sikap Kritis

Oleh: Funco Tanipu (Mengajar Teori Kritik di Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo)

Dr. Funco Tanipu., ST., M.A. (Ist)

MERAYAKAN KRITIK

Namun, apa yang telah Rocky lakukan sendirian perlu mendapat apresiasi, khususnya soal sikap kritis, walaupun tidak semua mesti diterima dengan akal yang sehat tentunya. Apa yang dia sampaikan soal “kedunguan” adalah hal yang perlu dinalar dan diperiksa lagi, apakah itu semacam perilaku kolektif atau hanya menjangkiti kalangan tertentu. Termasuk jika misalnya itu perilaku umum, bagaimana bisa berlaku dan terjadi, utamanya soal respon publik terhadap situasi sosial-politik.

Bahwa jika ada yang keliru dan salah terhadap pemerintahan memang mesti diawasi, dikritik dan dilawan jika memang perlu. Persoalan Rocky mendaratkan pilihan politik yang berseberangan adalah hal lumrah dalam demokrasi, perlu ada pihak yang melakukan oposisi untuk menjaga kesembangan demokrasi.

Pernah suatu ketika Rocky dilapor ke Kepolisian terkait istilah fiksi yang ia lontarkan. Memang Rocky “terpeleset” soal itu, walaupun ia yakin dengan itu. Kitab suci, khususnya Al Qur’an bukan sesuatu yang fiksi, ada juga fakta-fakta lampau yang termaktub dalam kitab suci. Apalagi dalam Al Qur’an berisi ketentuan-ketentuan yang pasti untuk diyakini. Ketentuan termasuk aturan bukan sesuatu yang imajinatif, karena akan dan pasti berlaku. Dalam konteks kewaktuan memang belum terjadi, tapi fakta-fakta historis telah menjadi bagian untuk mengukuhkan ketentuan dan aturan yang berlaku di masa akan datang. Walaupun, hampir semua maklum bahwa kejadian pengucapan “fiksi” ini terjadi di waktu yang telah lama, begitu pun dengan laporan Lapian yang tertanda April 2018, namun yang uniknya pemeriksaan Roger baru dilakukan pada Februari 2019, itupun saat Roger sudah pada puncak “memekakkan” telinga.

Bagikan: