Welcome to www.definitif.id | Pasti, Jelas dan Terpercaya | Copyright 2022

Rocky Gerung dan Memaknai Sikap Kritis

Oleh: Funco Tanipu (Mengajar Teori Kritik di Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo)

Dr. Funco Tanipu., ST., M.A. (Ist)

Selain itu, “Rockynisasi” ini adalah kemunduran kita dalam hal merawat demokrasi. Seakan-akan Roger adalah wakil dan juru bicara publik yang berada di kubu yang berbeda dari pemerintahan. Semua keluh kesah dan kekesalan diwakilkan pada Rocky untuk menyuarakan. Padahal, soal mengkritik pemerintahan, mengawasi rezim dan melakukan perlawanan (jika out of track) adalah tugas semua rakyat, bukan Roger saja. Yang membahayakan jika Roger telah berubah menjadi representasi sikap publik Indonesia yang kritis. Pada tahap itu, gairah kritis publik akan semakin menurun, karena menganggap ada yang telah merepresentasikan atau mewakili suara publik.

Pada titik itu, publik terjebak pada pada keindahan tutur kata Roger dalam bentuk kritik. Publik lalu kemudian secara massif lalu berebut dan waktu untuk membagikan video, menuliskan quote dalam media sosial dan banyak “perayaan” lainnya atas “lahirnya” idola baru ini.

Roger dan selanjutnya layaknya sinetron yang penuh dramaturgi. Sebab, dibalik itu adalah media yang bekerja dalam skema produksi, dengan jajanan yang memanfaatkan sentinmen dan pembelahan kubu jelang Pilpres. Dalam konteks makro, Rocky adalah bagian dari skema industri media yang tujuan akhirnya adalah naiknya rating dan keuntungan. Hasilnya apa, beberapa waktu silam, Indonesia Lawyers Club yang digagas TV One berada pada tingkat paling tinggi untuk acara Talkwshow di Indonesia, ILC memperoleh nilai 3.08 dari penilaian yang dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Hasil yang sama juga bisa dilihat dari Program Talkshow Berita terfavorit Panasonic Gobel Awards 2018, ILC TV One berhasil mengungguli Kick Andy Metro TV, Mata Najwa Trans TV dan Rosi Kompas TV.

Bagikan: