Ketiga, dari sisi finansial, walaupun RG lebih tinggi jumlahnya, namun RH dikenal dengan “fighter” dan “jelas”. Dari banyak pembicaraan yang menjadi opini umum, RH dianggap publik lebih “jelas” dibanding RG kalo soal itu. Walaupun RG memiliki dalih tidak mau menggunakan metode ini demi martabat rakyat Gorontalo dan memilih membantu rakyat dengan program mitra BUMN serta Kementrian, tapi faktanya faktor “harus jelas” dalam politik lokal masih menjadi salah satu faktor penting dalam memobilisasi suara.
Keempat, kontestasi pada Pemilu 2024 adalah penentu siapa yang akan “pensiun” dari politik lebih dahulu. Artinya, jika RH bisa menggondol suara sekitar 170 ribu hingga 200 ribu secara personal, apalagi jika ditambah “klaim” akumulasi suara Golkar bisa mencapai di atas 250 ribu maka keyakinannya untuk memajukan Idah Syaidah untuk maju Gubernur Gorontalo akan lebih kuat. Apalagi pada salah satu survey yang beredar di berbagai media memposisikan Idah pada urutan pertama lalu diikuti RG. Demikian pula sebaliknya, jika “klaim” perolehan suara RG dan Nasdem seperti banyak yang diberitakan yakni bisa menggondol tiga kursi, maka tidak perlu RG yang harus maju Pilgub, dengan memajukan adiknya Abdullah Gobel saja ia dan Nasdem akan yakin meraih kursi Gubernur secara enteng. Jadil hipotesisnya, siapa yang rendah suaranya, maka legitimasinya akan rendah, dan harus mengubur hasrat di Pilgub nanti.
Kelima, faktor penting yang ikut mewarnai dinamika keduanya adalah lingkaran elit masing-masing pihak yang tidak terlihat upaya membangun rajutan silaturrahmi antara RH dan RG. Lingkaran elit tersebut bisa berasal dari teman, keluarga dan termasuk pengurus masing-masing partai. Bahkan kedua belah pihak dalam berbagai rekaman media menunjukkan sikap emosional satu sama lain.








