Kontestasi ini menjadi penting dan serius karena keduanya ditengarai menyimpan “dendam politik” sejak Pemilu 2019. Terlihat bagaimana narasi sengit yang dipertontokan oleh kedua belah pihak beserta pendukungnya di berbagai media. Termasuk bagaimana upaya mempertemukan keduanya oleh berbagai pihak, tapi hingga hari ini belum bertemu dalam konteks silaturrahmi.
Faktor “dendam” warisan pemilu 2019 di atas diikuti faktor-faktor tambahan yang ikut memperkeruh suasana, hingga menjadi alat timbang keduanya untuk saling menekan dan terkesan “menghabisi”.
Pertama, dari sisi marga, marga keduanya adalah marga populer, banyak yang menggunakannya, jaringan luas dan pernah jadi legenda, yakni Thayeb Gobel dan BJ Habibie. Nama kedua tokoh legenda tersebut yang menjadikan keduanya bisa seperti sekarang ini, tanpa campur tangan itu, keduanya pasti akan biasa-biasa saja. Nah, jika membahas soal marga dan leluhur, ini tidak sekedar membahas soal garis keturunan, ini soal harga diri, soal gengsi keluarga, soal wibawa. Nama keluarga dipertaruhkan. Istilah Gorontalo, penu de oputia lo tulalo, bo dila oputia lo baya. Terkait topik ini, bagi orang Gorontalo: jang sampe mo malu.
Kedua, RH pernah teruji secara elektoral pernah menjadi Gubernur dua periode, istrinya bahkan menduduki kursi di DPR RI setelah berhasil memepet perolehan suara RG. RG tak kalah, ia meraih suara sekitar 140 an ribu untuk ke DPR RI, bahkan menduduki kursi Wakil Ketua DPR RI. Sehingga, perjumpaan langsung ini menjadi ajang menunjukkan kekuatan keduanya.








